Minggu, 22 Agustus 2010

Memancing Belut Bersama Kakek

By: Nursalim
Libur panjang tiba. Santana senang karena diajak Ayah dan Ibunya berlibur di rumah kakek nenek di pedesaan. “Besok kita berangkat pukul enam pagi  naik bus, kemas semua barang bawaanmu malam ini ya Tang”, Kata Ibunya.

Tak seperti biasanya, Santana yang biasa dipanggil Tatang bangun lebih pagi dari biasanya. Tepat deringan alarm berbunyi pukul 4. 30 pagi. Ayah mempersiapkan semua tas yang hendak dibawa, sedang ibunya mempersiapkan sarapan di dapur.

Usai persiapan, mereka berangkat  ke rumah kakek di pedesaan yang jaraknya cukup jauh memakan waktu tujuh jam.  Setelah naik bus, kemudian naik angkot. Dari terminal di kota, perjalanan ke rumah kakek melewati  pegunungan.

“Apa kabar kek!”, kata Santana begitu bertemu dengan kakeknya yang sudah menunggu di halaman rumah. “Baik cu, kakek kangen sama kamu”, sahut Kakek spontan. “Sana salaman dulu sama nenek di dapur”, lanjut kakek.

Lama tak ketemu membuat mereka saling berbagi kabar. “Sawahnya sudah panen ya kek”, kata Ibu.  “Sudah, sekarang sudah musim tanam. Bibit padi baru saja di tanam satu minggu lalu”, jawab kakek. “Besok cucu ikut ke sawah ya…. sambil mengairi sawah kita memancing belut”, lanjutnya

“Memancing belut kek, wah… Santana ikut?”, jawab Santana cekatan. Raut wajahnya tak bisa menyembunyikan suka citanya, karena ini akan menjadi pengalaman pertama kalinya.

Pagi yang indah. Hawa segar dan suara kicauan burung menyapa saat pagi. Sekeliling rumah kakek memang masih hijau pepohonan.  Santanapun pagi itu berangkat bersama kakek ke sawah. “Bagaimana cara memancingnya kek”, tanya Santana begitu sampai di sawah.

Kakek kemudian memperkenalkan tali senar dan pancing. “Tali dan pancing sudah kakek siapkan, juga cacing umpanya”, kata Kakek. Kemudian memperagakannya dengan cara mencari lobang liang persembunyian belut di sepanjang pematang sawah.

“Nah kena kan belutnya, tarik talinya jika belutnya sudah memakan umpan”, jelas Kakeknya. “Iya kek, sekarang Santana yang memancing”, sahutnya tak sabar. Kakek kemudian memupuk tanaman padi tak jauh dari Santana memancing.
“Dapat belut kekk ….?! Kata Santana girang. Senangnya bukan kepalang. Tapi itu bukan terakhir, hingga satu jam lamanya Santana berhasil mendapatkan delapan ekor belut. Perolehan belut bertambah banyak ketika keduanya, kakek dan Santana memancing.
 
Belut masih berkembang biak di persawahan pedesaan tersebut karena tak pernah di racun (potas). Biasanya warga hanya mencari secukupnya dengan cara memancing.  “Ikan tidak boleh diracun biar terus berkembang dan tidak mencemari sawah”, jelas kakek.

Sampai di rumah, nenek memasak Belut hasil pancingan Santana dan kakek. Selama memasak, Santana banyak bertanya tentang cara memasak belut sambil membantu nenek.

Ternyata Ayah dan ibu suka juga makan berlauk belut goreng. Wah.. Santana ikut senang karena bisa membahagiakan Ayah Ibunya. Libur Santana terasa lengkap dengan pengalaman barunya, memancing belut.
“Jumpa lagi ya kek, nek.." kata Santana. Santana kemudian kembali pulang bersama Ayah dan Ibunya karena dua hari lagi masuk sekolah.